Renungan Sholat Jum'at

9 September 2011

Pada saat sholat jum'at tadi sang khotib memberikan khotbah yang menarik sekali bagi saya. Pada saat memberi khotbah khotib memaparkan suatu kasus yang memang tidak asing lagi terjadi di sekitar kita. Kasus tersebut begini pada masa Rasullullah ada seorang pemuda yang menghadap rasul dan bertanya  
"Bagus manakah  seorang muslim yang ibadahnya bagus, sholat, zakat, naik haji, puasanya sudah lebih dari orang pada umumnya namun dia tidak mau mengikuti kegiatan sosial, dibandingkan dengan seorang muslim yang sholatnya sering lubang, jarang puasa, tidak pernah mengaji namun dia sering memberi nafkah fakir miskin, memberi makan anak yatim, dan senang berbagi dengan tetangga sekitar?". 
Masalah ini acapkali terjadi di sekitar lingkungan kita ada seorang pak Haji yang suka beribadah namun, dia sering kasar kepada tetangga, naik haji tanpa memperdulikan fakir miskin disekitarnya. Sedangkan ada juga yang suka menyambung silaturahmi, memberi sedekah, dan ibadah sosial tetapi ibadah kepada Allah SWT, jarang bahkan sering terlupa.

Pada saat itu Rasul tidak langsung memberi solusi namun, menunggu wahyu dari Allah. Maka turunlah ayat dalam surat Al Baqarah 177 yang artinya demikian:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.S Al Baqarah 177)

Tafsirnya kurang lebih demikian:

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 177).
(Diriwayatkan oleh Abdur-razzaq dari Ma'mar, yang bersumber dari Qatadah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil 'Aliyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 177) sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang "al-Bir" (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (S. 2. 177) Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu wa rasuluh", kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah.)


Jadi kesimpulannya demikian:
Bukan yang ibadahnya tekun namun tidak suka silaturahmi, bukan pula yang suka sedekah tetapi jarang sholat yang baik. Tidak ada yang lebih baik diantara keduanya, yang baik adalah muslim yang mampu melaksanakan keduanya dengan seimbang sesuai yang tercantum dalam ayat Al-Baqarah 177.

Wallahu a'lam bisshowab

Tidak ada komentar: